PIRINGAN HITAM ( PH )
Sekarang ini kita kenal teknologi moderen yakni teknologi Digital, hampir semua perangkat elektonik masa kini menggunakan teknologi ini, tapi sayang dibeberapa bidang elektronik, teknologi digital ini dianggap belum biasa menggantikan teknologi yg lama.Contohnya yg terjadi pada perangkat audio, khususnya media sumber bunyi dan alat rekam suara musik. para Audiophile mania masih memilih Piringan hitam (PH) sebagai sofwere andalan , ketimbang CD . Alasannya jelas karna PH masih menggunakan sistim Analog, Suara rekaman yg bersistem Analog memang tidak sebersih rekaman Digital , namun suaranya terkesan lebih lemas, lebih melow, atau lebih natural, ketimbang rekaman digital ( CD) yg suaranya terkesan gesit, cepat tapi kaku .
PH sendiri didalam keluarganya masih dibagi beberapa tingkatan , ada PH biasa , ada PH yg non biasa ( luar biasa) Salah satu yg masuk katagori PH bukan biasa adalah Direct to Disc

Direct to Disc adalah nama atau sistem cara merekam PH. Caranya ketika seorang penyanyi atau sekelompok musisi bermain, suaranya ditangkap oleh microphone lalu di terima oleh mixer, dari Mixer langsung direkam ke PH master, dengan bantuan mesin bubut PH sebagai alat rekamnya. Jadi peristiwa rekaman itu berjalan langsung sekali jadi, tidak boleh salah, tidak boleh diulang , tidak ada kosmetic atau manipulasi suara dan tidak bisa dilakukan bertahap .
Tentunya bagi sang musisi cara seperti ini lebih sulit, biasanya musisi yg mampu melakukan cara ini adalah musisi kelas panggung, kalau musisi kelas studio seperti yg banyak hidup di blantika music Pop sekarang , rada ngeper juga mau pake cara spt ini, bisa-bisa ketauan suara jelek nya. Walaupun sistem ini baru di kembangkan pd tahun 80 an , namun sebenarnya cara merekam spt itu sudah dilakukan oleh studio-studio jaman dulu. Kalau anda pernah nonton Film "O Brother,where art thou" ada adegan praktek cara merekam Direct to Disc, ketika Jagoannya lagi nyanyi ber empat di sebuah ruang Studio Pemancar Radio , suaranya langsung di rekam pake mesin bubut PH yg bentuknya seperti Gambar disebelah kiri ini
Kelebihannya yg paling kelihatan dinamika (dB) nya lebih tinggi dari rekaman PH biasa. Selain itu kwalitas suaranya benar-benar lebih hidup, waktu saya mendengarkan album Lazi Lester , seorang penyanyi Blues , dari PH Direct to Disc produksi rekaman APO benar-benar kita seperti dengar orang nyanyi betulan. Hal mana belum pernah saya alami ketika mendengar PH biasa. Kemudian saya pasang Album Ray Brown & L.Almaida, PH Direct to Disc Seri Audiophile Legends, produksi rekaman JetOn. Album ini memperdengarkan permainan Gitar acustic dan Cello , Dinamika suara Cello nya benar-benar sulit diceritakan dgn kata-kata, mungkin karna direkam benar-benar secara Direct to Disc (langsung) barangkali waktu merekam meraka hanya menggunakan satu microphone..? atau ngga tau gimana cara lah pokoknya ... sampai-sampai ketara sekali bahwa suara Cello itu sebenarnya jauh lebih keras dari suara gitar acustic. Sehingga kalau lagi main bareng suara gitar nya ketiban banget sama dinamika cello. Namun begitu justru kedengarannya seperti sebuah live musik beneran.
Di album yg lain saya spt benar-benar mendengar suara Piano seakan-akan berada di belakang loudspeaker, kemudian suara penyanyi berada didepan loudspeaker dan iringan instrumet lain berada di speaker sebelah kiri dan kanan. Fenomena live itu bisa terasa karna dibantu dgn meletakan loudspeaker agak menjauhi dinding , lalu pada saat musik hidup seluruh lampu ruangan saya matikan. Aneh memang...padahal saya hanya menggunakan sepasang loudspeaker.Begitulah pengalaman saya waktu mencoba rekaman-rekaman PH Direct to Disc.
Cuma ada beberapa ketidak puasan saya soal album-album PH Direct to Disc ini, yakni rata-rata penyanyinya ngga terkenal semua. katanya ada beberapa album dari penyanyi terkenal , tapi saya belum pernah liat PH nya. Entah kenapa memang demikianlah yg saya alami.

Ada yg bilang , bahwa umumnya Penyanyi yg suka merekam suaranya diatas PH Direct to Disc , justru penyanyi yg tidak terkenal, umumnya penyanyi kelas Cafe atau Bar , Walau bukan penyanyi terkenal, namun mereka sangat terbiasa unt menyanyi langsung, mungkin pekerjaan nyanyi langsung (nyanyi diatas panggung) sudah dilakukan semenjak bertahun-tahun, jadi tidak heran kalau mereka dengan mudah mengikuti syarat-syarat perekaman ala Direct to Disc atau Direct Cutting .
Saran:
Sungguhpun demikian Rekaman PH Direct to Disc ini boleh di jajal, terutama bagi anda yg hobby main PH. dan Saran saya carilah rekaman yg baru, kualitas suaranya rata-rata jauh lebih baik, ada banyak PH Direct to Disc rekaman tahun 80 an tapi seringkali kwalitasnya belum benar-benar sebaik yg sekarang.

Kalau mau hemat beli PH yg mahal :
Seperti kita ketahui harga sebuah album PH yg masih segel (baru) amatlah mahal, PH kelas biasa aja harganya bisa berkisar 200 s/d 300 ribu, PH yg ada tulis-tulisan Audiophile-nyaa .. bisa 400 ribuan keatas, untuk PH album penyanyi yg legendaris seperti Lois Amstrong apalagi yg dikemas special , pernah liat harganya sampai 900 ribu. Singkat kata PH itu harganya memang super mahal , apalagi bagi kita para audiophile kelas Teri . Tapi kalau kita mau berhemat saya sarankan belilah PH yang mahal-mahal tersebut, jangan beli PH yg sdh tua . Justru kalau kita membeli PH bekas apalagi yg sudah tua (spt pd gambar disebelah kiri ini) sama artinya kita membuang-buang uang. Karna PH itu mudah sekali cacat, ibarat binatang, PH ini banyak predatornya, banyak yg ingin membunuh dan memangsanya , mulai dari debu halus , jamur, suhu udara, listrik statik (yg timbul akibat gesekan antara bahan plastik vynil dgn jarum PH), bahkan tata letak penyimpanan pun bisa mengakibatkan PH rusak.
Selain itu PH yg dipasang terus-menerus ,lama-kelamaan kawalitasnya akan berkurang dengan sendirinya, karna gesekan antara PH yg terbuat dri plastik vynil dgn jarum turntable yg terbuat dri logam, tentunya dalam jangka waktu tertentu plastik vynil akan terkikis . pokoknya banyak lagi kerawanan-kerawanan yg bisa terjadi pada PH, Jadi kalau kita beli PH bekas apalagi yg sudah berumur resikonya akan tinggi, jangan beli PH hanya tergiur oleh adanya lagu kesukaan kita, perhatikan dahulu kondisi barangnya.
Ada suatu perumpamaan yg tepat mengenai perbandingan antara PH baru & bekas,
(tapi maaf sebelumnya kalau kata-kata saya ini jadi terdengar kasar)
" Anda pilih mana ...bayar mas kawin 1 juta... anda bisa kawin dengan anak perawan, atau bayar mas kawin 50 ribu tapi kawinnya sama nenek-nenek"
Naah...yg bayar 50 ribu itulah yg saya maksud cuma buang-buang uang aja .

Saya bukan orang kaya, tapi kalau beli PH lebih baik saya beli yg baru sekalian, Kalau ngga mampu beli PH baru lebih baik ngga beli sama sekali.

Mengkoleksi PH bukan soal berapa jumlahnya yg terpenting....melainkan Siapa penyanyinya, apa nama produksi Rekamannya, dan kondisi multak harus baik. Punya PH banyak juga percuma kalau kondisinya jelek-jelek, mending punya satu atau dua buah asalkan benar-benar bagus.

Wassalam

Kembali
ke
Menu